Welcome To Di:http/www.al-zaint.blogspot.com Telp:008(Bebas operator )

Welcome To Di:htt/www.al-zaint.blogspot.com Alamat:Jl.Kh.Moh.Rais Poncol RT.04/08 Kel:Kamal Kec:Kalideres Jak-bar Telp:(021)55951075

Rabu, 14 September 2011

Tasawuf

Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 19:33
Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.
Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)
Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195
Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)
Imam Shafi’i :  ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]
Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :
“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)
Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)
Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)
Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.
Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)
Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)
Dalam suratnya al-Maqasid :  “Ciri jalan sufi ada 5 :  menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi :  “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)
Ibn Khaldun :  “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]
Tajuddin as-Subki
Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.
Jalaluddin as-Suyuti
Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”
Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)
Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.
Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf
Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”
Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘
Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)
Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”
Ibn ‘Abidin
Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].
Shaikh Rashid Rida
Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”
Abul ‘Ala Mawdudi
Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.


66 Comments »

  1. [...] Highlight Ilmu Tasawwuf (Sufi) Ditulis pada 2 Maret 2009 oleh dalamdakwah Tasawuf [...]
      Highlight Ilmu Tasawwuf (Sufi) « Dalamdakwah — 2 Maret 2009 @ 11:46
  2. Iman dan ihsan itu merupakan bagian dari ajaran Islam, jadi bukan masing-masing berdiri sendiri. Syahadat itu merupakan dasar pokok dari ajaran Islam, sekaligus adalah ‘puncak’ atau kesimpulan dari ajaran iman. Tatkala dia yakin dengan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Islam, maka dia mengucapkan syahadat. Jabaran dari syahadat itu tergambar dalam rukun iman yang 6 (enam) pekara tersebut. Shalat dan puasa adalah gambaran ibadah dari ajaran Islam. Sementara zakat dan haji pada hakikatnya adalah muamalat, karena kedua perintah ini pasti menyangkut hubungan dengan orang lain. Apabila rukun Islam dilaksanakan dengan ihsan yakni semata karena Allah SWT, maka jadilah orang itu sufi. Jadi sufi itu adalah seseorang Muslim yang benar-benar melaksanakan rukun Islam dengan tingkat iman yang tinggi dan didasarkan dengan ihsan dan ikhlas. Semua orang Muslim bisa menjadi sufi dan tidak pula wajib harus dengan mursyid tertentu atau toriqoh tertentu. Insya Allah, Anda pun bisa jadi sufi.
      elfizon anwar — 3 Juni 2009 @ 18:46
  3. KESEMPURNAAN HIDUP DIDUNIA ADALAH DENGAN IMAN ISLAM DAN IHSAN DISERTAI ILMU DAN AMAL. KARENA KETIKA MANUSIA HIDUP DIDUNIA NAFSU DAN SETAN SELALU MENGGODANYA UNTUK ITU NAF ALMUTMAINAH YANG MEMBAWA KEJALAN IKLHAS DAN RIDHO DALAM MENJALANKAN SYARIATNYA
      www.tasawuf.com — 4 Juni 2009 @ 21:43
  4. Sukron ats tulisan’y..jazakumulloh..
      Khayru — 25 September 2009 @ 19:29
  5. PUTAR BALIKKANLAH FAKTA…!, SUNGGUH ALLOH MAHA TAHU TERHADAP ORANG YANG SESAT DI JALAN-NYA.
    SILAHKAN BACA PERKATAAN MEREKA (PARA ULAMA) YANG SESUNGGUHNYA DALAM KITAB2 MEREKA TANPA ADA YANG DI POTONG-POTONG ATAU DIAMBIL SEMAUNYA AJA MENURUT HAWA DAN BISIKAN IBLIS…!
    TERIMA KASIH,
    SAYA YANG MENCINTAI KALIAN AKAN ISLAM YANG SESUNGGUHNYA
    WASALLAM
      san — 8 Nopember 2009 @ 06:06
  6. Assalamu’alaikum… utk mas san, maksudnya apa sih? tolong atuh sy dijelaskan secara detil karna sy org bodoh dan kurang mengerti.. makasi sebelumnya.. Salamun’alaikum..
      muhammad jaelani — 22 Desember 2009 @ 05:36
  7. Asalam mlkm wrwb bagamana ber tasawup kalau tidak punya mursid
      Baem — 21 Februari 2010 @ 17:40
  8. PENDUSTA
      Ibn sahr — 13 Mei 2010 @ 17:28
  9. mengutip blog sebelah, di zaman rasulullah tasawuf tdk ada namany, tetapi byk dterapkan oleh sahabat2 nabi. mereka menerapkan sifat2 ikhlas, sabar, zuhud, brsh mbersihkan diri dr dosa krn cintany pd Allah. Smtr saat ini tasawuf populer namany, tp minim skl penerapan nya. Fiqh & tasawuf adl 2 ilmu yg tdk tpisahkan dan slg melengkapi. Spt kt seorang ustadz ” Fiqh terlihat hitam putih dan Tasawuf terlihat spt pelangi, warna warni dmn setiap warna tampak jelas. Karena memang Islam itu indah”.
    Wallahu’alam
      titi — 26 Juni 2010 @ 07:37
  10. Ya Allah,sungguh besar dusta mereka,ajaran tasauf sesat mereka luruskan dengan mengarang perkataan imam yang telah memurnikan syariat islam.beri hidayah mereka,Amiin
      abu unaisah — 29 Agustus 2010 @ 13:31
  11. kata teman saya : ada 4 yang harus kita pelajari di dalam islam. 1. syariat, 2. Tarekat, 3. Ma’rifat, 4. Tasawuf. janganlah mengatakan tasawuf itu sesat. seolah-olah kamu itu benar. mohon maaf bila ada salah.
      fatur rahman — 24 September 2010 @ 08:32
  12. Koq bisa-bisanya tasawuf dibilang sesat …..
    Maaf saya belum ahli seperti para ulama, tapi mohon direnungkan.
    sadarkah anda, anda bisa seperti sekarang ini karena siapa?
    sadarkah anda, anda bisa hidup, bernafas dan nyata didunia ini karena siapa?
    sadarkah anda, tiap2 molekul yg ada pada tubuh anda bertasbih untuk siapa?
    So …. orang yang sadar akan hal tsb diatas, dan berserah diri, pasrah karena kita hidup untuk-Nya ….
    dan berusaha mendekatkan diri dengan mensucikan diri, mendalami ilmu agama & berserah diri pada-Nya ….
    koq dibilang sesat? bid’ah? …. dan mendo’akan supaya diberi hidayah?
    sungguh naif sekali!
    Andalah yang perlu dido’akan supaya diberi hidayah, dan INGAT!! itupun kalau ALLAH menghendaki-Nya!!!
    1 lagi …. para nabi & rasul bertugas untuk menyampaikan kepada manusia agar tidak sesat dari jalan ALLAH.
    Jadi hati-hatilah …. cinta rasul tidak dilarang, tapi jangan melebihi cinta kita pada pencipta rasul itu, yakni ALLAH !!! Yang Maha Segalanya!!!
    Maafkan hamba-Mu ini ya ALLAH …. Engkaulah Maha Pengampun Lagi Maha Bijaksana ….
      baim — 5 Oktober 2010 @ 15:54
  13. Tasawuf bukanlah sesat,tapi suatu penamaan ilmu karena berkembangnya pengetahuan manusia mengenai pendekatan akhlak, hati, pikiran mengingat Allah. Tasawuf adalah ilmu pengetahuan dalam agama islam mengenai hati beriman kepada Allah, mengapa dikatakan ilmu pengetahuan? Sebab seseorang mengikuti jalan tasawuf mengalami perjalanan spiritual tak dicapai oleh yang lainnya sehingga tak bisa dirasakan oleh yang lainnya. Kesimpulan yang dirasakan adalah ilmu yang sebenarnya Allah saja yang mengetahui pastinya seperti apa. Ilmu pengetahuan penjabarannya berkembang begitu juga tasawuf karena itu hati-hatilah terjebak merasa paling benar dan kembalikanlah kepada Allah, yang penting hasil yang dibuatnya seperti manisnya madu mendatangkan kebaikan baik bagi manusia dan alam semesta terbukti kemajuan ilmu pengetahuan di Bagdad dan Andalusia dimasa lalu. Seorang muslim tanpa tasawuf menjadi kering, kaku sehingga mudah berbuat kerusakan dan cendrung memicu permusuhan karena menghamba pada nafsunya sendiri. Kehati-hatian adalah baik tapi jangan terjebak nafsu iblis karena takut bid’ah hingga memusuhi yang berbeda pendapat dengan muslim yang lainnya adalah sumber kehancuran peradaban islam sendiri.Dengan demikian Ilmu pengetahuan tidaklah sesat begitu juga tasawuf sebab ilmu pengetahuan ini semakin jelas kebenarannya dengan semakin tingginya pemahaman. Sadarlah hakikat bukan yang tampak, sadarlah akibat takut bid’ah menghasilkan permusuhan yang ujungnya mempertahankan kepentingan nafsu sekelompok orang. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini
      muslim — 7 Oktober 2010 @ 17:14
  14. memang kita perlu mempelajari ilmu tasawuf karna dengan tasawuf lah maka kita akan lebih dekat pada Allah.jg penyakit ruhani kita akan bisa terdeteksi.
      makmur — 30 Oktober 2010 @ 08:50
  15. alhamdulillah, segala puji bagi ENGKAU duhai SANG MAHA PENCINTA. KAU geleparkan
    nafs ku hilang dalam warnaMU, ENGKAU hunjamkan panah cinta ke semua makhlukMU, tak perduli mereka memfintah atau menuduhMU, senyum KasihMU menebar jagat raya.
    kuseret tertatih “keinginanku” untuk mencium wangiMU.
    ijinkan hamba untuk mendekat kepadaMU.
    duh GUSTI……….
    jangan palingkan aku dari selainMU.
      mbah manah — 4 Nopember 2010 @ 21:28
  16. Astagfirullah…
    sebelum menuduh orang lain sesat, memang anda siapa? berhak menghakimi orang ?
    Islam itu Rahmatan lil Alamin bukan milik anda saja..
    soal siapa yg sesat itu hak ALLAH saja, selama tidak menyimpang Quran dan Hadist itulah Islam, percuma sholat tapi hati tidak bersih, Nabi aja santai sama orang kafir selama tidak mengganggu, kok anda yg mengaku Muslim malah menuduh sesama Muslim sesat, Otak boleh pinter tapi hati juga harus dididik,
    karena hati itulah kuncinya bukan otak.
      rahmad — 13 Nopember 2010 @ 10:34
  17. Subhanalloh,,,walhamdulillah wala ilaha ilalloh…allohu akbar….
    Alloh dan rosulnya sudah jelas melarang kita untuk menyatakan/mengatakan KAFIR kpda sesama umat islam….
      Putra — 15 Nopember 2010 @ 12:08
  18. ahlak yang paling jelek dan yang paling dbenci rasullulloh adalah berdusta ,apalagi berdusta atas nama ulama . Subhanalloh bertobatlah ya akhi
      abdurrahman — 15 Nopember 2010 @ 17:41
  19. Diturunkan Nabi adalah unt memperbaiki akhlak, dan inti dari tasawuf adalah akhlak,adab, etika hubungan dgn Allah sebagai Pencipta dgn alam dan seluruh mahkluk sebagai sesama ciptaan tapi juga kita tidak bisa memungkiri bahwa seluruh manusia dibumi adalah dari dua keturunan Adam habil dan qobil dimana yg satu dikuburkan dgn kafan oleh Adam dan yg satunya lagi mati membusuk tanpa baju bersyukurlah jika kita dari keturunan yg meninggal dikuburkan Adam dgn kafan karena kafan adalah baju dan baju adalah kata sederhananya unt Akhlak.
      Abdul Manan — 18 Nopember 2010 @ 18:43
  20. Saya sudah setahun menjalani tasawuf, banyak perubahan akhlak yang terjadi pada saya, sy ingin sekali dapat berbagi dengan sesama tasawuf, tp belum ada satupun yang mempunyai pikiran sependapat dengan sy, padahal kalau memang benar2x sesama tasawauf, meskipun berbeda jalan pikirannya , semuanya sama menuju pendekatan yang hakiki, meskipun teman sejati sy cuman Allah SWT, adakah sesama tasawuf yg dapat menjalin dan bertukar pikiran dengan sesama tasawuf , termasuk sy…
      Fie — 19 Nopember 2010 @ 13:48
  21. apakah nabi muhammad saw pernah mengajarkan tasawuf ,ato akhlak fersi tasawuf kepada para sahabatnya,? tidak pernah ya akhi ,tidak pernah ,,kalolah memang ada pasti ada hadist yang bercerita tentang tasawuf,,padahal semua wahyu yg dturunkan kpada nabi muhammad semua terjaga sampai akhir bumi ini ,smua ucapan yang diucapkanya itu bukanlah keingginanya tapi wahyu yg dwahyukan kepadanya ,, apa mungkin tasawuf itu datang dari islam?????????
      abdurrahman — 1 Desember 2010 @ 18:54
  22. MOHON UNTUK DIKOREKSI KALIMAT TERAKHIR DARI PARAGRAF INI: ia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan “”golongan kanan”" “(ashabus-syimal)”.”
      putri — 8 Desember 2010 @ 11:35
  23. ”golongan kanan”kok “(ashabus-syimal)” “(ashabul-yomiin)” dong
      abdul — 12 Desember 2010 @ 14:25
  24. tasawuf cuma sebuah nama dr cabang ilmu islam mungkin di zaman nabi g’ ada tapi dilakukan dan dilaksanakan oleh sahabat contoh saling mengasihi, membersihkan hati dr selain allah. Semoga gusti allah meridhoi kt semua tetap di jalan allah.
      fauji — 14 Desember 2010 @ 01:16
  25. rame amat, da paan yach…peace :)
      gojali — 14 Desember 2010 @ 03:28
  26. Istilah “sufi” atau “tasawwuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat kebanyakan. Istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas masyarakat beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu melekat di tangan, dan bibir yang senantiasa komat-kamit melafazhkan dzikir. Semua ini semakin menambah keyakinan bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allâh Ta’ala.
    Sebelum membahas tentang hakikat tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan hanya dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata. Barometer sesuai tidaknya pemahaman tersebut, ialah menakarnya dengan Al-Qur‘ân dan Sunnah menurut yang dipahami oleh Salafush-Shalih.
    Imam al-Barbahâri rahimahullâh mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya, Syarh as-Sunnah dengan ucapan beliau:
    “Perhatikan dan cermatilah –semoga Allâh Ta’ala merahmatimu– semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu, maka jangan sekali-kali engkau terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai engkau tanyakan dan meneliti kembali, apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah radhiyallâhu’anhum atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlus-Sunnah? Kalau engkau mendapatkan ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka, (maka) berpegang teguhlah engkau dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah (sekali-kali) engkau meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga (akibatnya) engkau akan terjerumus ke dalam neraka!”
    Setelah prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawwuf, agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran tasawwuf ini.

    LAHIRNYA AJARAN TASHAWWUF
    Tasawwuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal pada zaman para sahabat radhiyallâhu’anhum, bahkan tidak dikenal pada zaman tiga generasi yang utama (generasi Sahabat, Tâbi’in dan Tabi’it Tâbi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah masa tiga generasi ini.
    Pertama kali muncul di kota Bashrah, Irak, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (Islam) lainnya.
    Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullâh berkata dalam kitab at-Tashawwuf, al-Mansya’ wa al-Mashdar (hlm. 28):
    “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawwuf klasik maupun modern, dan ucapan-ucapan mereka yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawwuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al-Qur`ân dan Sunnah. Dan sama sekali, tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawwuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau radhiyallâhu’anhum yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allâh Ta’ala. Justru sebaliknya, kita dapati ajaran tasawwuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nashrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi, dan zuhud model agama Budha”.[4]
    Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawwuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam. Hal ini nampak jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawwuf, amalan-amalan ibadah yang asing dan jauh dari petunjuk Islam.

    PRINSIP-PRINSIP DASAR AJARAN TASHAWWUF
    YANG MENYIMPANG DARI PETUNJUK AL-QUR‘ÂN DAN SUNNAH[5]
    Orang-orang ahli tashawwuf –khususnya yang ada pada zaman sekarang– mempunyai prinsip dasar dan metode khusus dalam memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat bertentangan dengan prinsip dan metode Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, dan menyimpang sangat jauh dari Al- Qur‘ân dan Sunnah, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
    1.
    Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan arraja‘ (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tashawwuf:
    “Aku beribadah kepada Allâh Ta’ala, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka”. (!?)
    Memang benar, aspek al-mahabbah merupakan landasan ibadah. Akan tetapi, ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek al-mahabbah saja, seperti persepsi orang-orang ahli tashawwuf. Karena, ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek al-mahabbah, misalnya aspek al-khauf, ar-raja‘, adz-dzull (penghinaan diri), al-khudhû‘ (ketundukkan), do’a, dan aspek-aspek lainnya.
    Salah seorang ulama Salaf berkata:
    “Barang siapa yang beribadah kepada Allâh Ta’ala dengan kecintaan semata, maka dia adalah seorang zindiq (kafir). Barang siapa yang beribadah kepada Allâh Ta’ala dengan pengharapan semata, maka dia adalah seorang Murji’ah. Barang siapa yang beribadah kepada Allâh Ta’ala dengan ketakutan semata, maka dia adalah seorang Harûriyyah (Khawarij). Dan barang siapa yang beribadah kepada Allâh Ta’ala dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan, maka dialah seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar)”.
    Oleh karena itu, Allâh Ta’ala memuji sifat para nabi dan rasul-Nya yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya.[6]

    2.
    Orang-orang ahli tashawwuf, umumnya, dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al-Qur‘ân dan Sunnah, tetapi, pedoman mereka adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka, serta ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka.
    Konkretnya dalam bentuk tarikat-tarikat bid’ah, berbagai macam dzikir dan wirid yang mereka ciptakan sendiri. Tidak jarang pula mereka mengambil pedoman dari cerita-cerita khurafat (yang tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan hadits-hadits palsu untuk membenarkan ajaran dan keyakinan mereka.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh berkata:
    “Orang-orang ahli tashawwuf, dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allâh Ta’ala, (mereka) berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang dipegang oleh orang-orang Nashrani. Yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal kejujurannya. Kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan seorang (nabi/rasul) yang terjaga dari kesalahan. Maka (demikian pula yang dilakukan orang-orang ahli tashawwuf), mereka menjadikan para pemimpin dan guru-gurunya sebagai penentu/pembuat syari’at agama bagi mereka, sebagaimana orang-orang Nashrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai penentu/ pembuat syari’at agama bagi mereka”.

    3.
    Termasuk doktrin ajaran tashawwuf, ialah keharusan berpegang teguh dengan dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka. Hingga merasa cukup dengan produk dzikir-dzikir tersebut, beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh Ta’ala dengan selalu membacanya.
    Bahkan tidak jarang mereka mengklaim bahwa membaca dzikir-dzikir tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur‘ân, dan mereka menamakannya dengan “dzikirnya orang-orang khusus”. Adapun zikir-zikir yang tercantum dalam Al-Qur‘ân dan Sunnah, mereka namakan dengan “dzikirnya orang-orang umum”.
    Kalimat thayyibah (lâ ilaha illallah), menurut mereka termasuk “dzikirnya orang-orang umum”. Adapun “dzikirnya orang-orang khusus” ialah melantunkan kata tunggal (الله) dengan berulang-ulang. Lebih aneh lagi, mengulang-ulang kata (هُوَ/Dia), mereka sebut sebagai “dzikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus”.
    Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh berkata:
    “Barang siapa yang beranggapan bahwa kalimat Lâ ilaha Illallâh adalah dzikirnya orang-orang umum, dan dzikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal (الله), serta dzikirnya orang- orang khusus yang lebih khusus adalah kata ganti (هُوَ/Dia), maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan”.

    4.
    Sikap ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) orang-orang ahli tashawwuf terhadap orang-orang yang mereka anggap telah mencapai kedudukan ‘wali’ atau terhadap guru-guru tarikat mereka. Pengertian wali dalam kamus mereka bertentangan dengan apa yang ditetapkan oleh Al–Qur‘ân.
    Wali (kekasih) Allâh Ta’ala adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allâh Ta’ala). Dan merupakan kewajiban kita untuk mencintai, menghormati dan meneladani mereka. Perlu ditegaskan di sini, bahwa derajat kewalian itu tidak hanya dikhususkan bagi orang- orang tertentu saja. Akan tetapi, setiap orang yang beriman dan bertakwa, maka ia adalah wali (kekasih) Allâh Ta’ala.
    Kedudukan sebagai wali Allâh Ta’ala juga tidak menjadikan diri seseorang terpelihara dari kesalahan dan kekhilafan. Inilah makna wali dan kewalian, dan kewajiban kita terhadap mereka, menurut pemahaman Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.
    Adapun makna “wali” menurut kalangan ahli tashawwuf sangat berbeda dengan pemahaman Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Orang-orang ahli tashawwuf memiliki beberapa kriteria dan pertimbangan tertentu (yang bertentangan dengan petunjuk Al-Qur`ân dan Sunnah) dalam masalah ini. Mereka menobatkan derajat kewalian hanya kepada orang-orang tertentu saja tanpa dilandasi dengan dalil syari’at yang menunjukkan kewalian orang-orang tersebut.
    Bahkan, tidak jarang, mereka menobatkan derajat kewalian kepada orang yang tidak dikenal keimanan dan ketakwaannya, atau kepada orang yang dikenal mempunyai penyimpangan dalam keimanan. Seperti orang yang melakukan praktek perdukunan, sihir dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allâh Ta’ala, melakukan hal-hal yang aneh-aneh atau di luar kebiasaan.
    Kita dapat menjumpai mayoritas orang-orang ahli tashawwuf menobatkan seseorang sebagai “wali” hanya dikarenakan orang tersebut mampu menyingkap tabir dalam suatu masalah, atau orang tersebut melakukan sesuatu yang di luar kemampuan manusia. Seperti terbang di udara menuju ke Makkah atau tempat-tempat lainnya.
    Terkadang berjalan di atas air, ketika ada orang yang meminta pertolongan kepadanya dari tempat yang jauh atau setelah dia mati, maka orang itu melihatnya datang dan menyelesaikan keperluannya, memberitahukan tempat barang-barang yang dicuri, memberitakan halhal yang ghaib (tidak nampak), dan lain-lain. Padahal, kemampuan melakukan hal-hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa pelakunya adalah wali Allâh Ta’ala.
    Kaum mukminin telah sepakat dan sependapat mengatakan, jika ada orang yang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, maka kita tidak boleh terpedaya dengan penampilan tersebut sampai kita melihat, apakah perbuatannya sesuai dengan Sunnah Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam? Apakah orang tersebut selalu mentaati perintah beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan menjauhi larangannya?
    Karena hal-hal yang di luar kemampuan manusia ini bisa dilakukan oleh banyak orang kafir, musyrik, ahli kitab, ataupun orang munafik. Bisa juga dilakukan oleh para pelaku bid’ah dengan bantuan setan/jin.
    Oleh karena itu, setiap orang yang mampu melakukan hal-hal di atas, sama sekali, tidak boleh dianggap sebagai wali Allâh.[7]
    Kesesatan orang-orang ahli tashawwuf tidak sampai di sini saja. Sebab, sikap mereka yang berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mengagungkan orang-orang yang mereka anggap sebagai “wali”, sampai-sampai mereka menganggap “para wali” tersebut memiliki sifat-sifat ketuhanan, seperti mengetahui hal-hal yang ghaib. Pada gilirannya, menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan syirik dengan menjadikan “para wali” tersebut sebagai sesembahan selain Allâh Ta’ala.

    5.
    Termasuk doktrin ajaran tashawwuf yang sesat adalah mendekatkan diri kepada Allâh Ta’ala dengan nyanyian, tarian, tabuhan rebana dan bertepuk tangan. Semua ini mereka anggap sebagai amalan ibadah kepada Allâh Ta’ala (?!).
    Dr. Shâbir Thu’aimah berkata dalam kitab ash- Shûfiyyah, Mu’taqadan wa Maslakan:
    “Saat ini, tarian shufi modern telah dipraktekkan oleh mayoritas tarikat Shufiyyah dalam pesta-pesta perayaan ulang tahun beberapa tokoh mereka. Para pengikut thariqat berkumpul untuk mendengarkan nada-nada musik, yang terkadang didendangkan oleh lebih dari dua ratus pemain musik pria dan wanita. Sedangkan para murid senior, dalam pesta ini duduk sambil mengisap berbagai jenis rokok, dan para tokoh senior beserta para pengikutnya membacakan beberapa kisah khurafat (bohong) yang terjadi pada sang tokoh yang telah meninggal dunia…”.

    6.
    Juga termasuk doktrin ajaran tashawwuf yang sesat, yaitu apa yang mereka namakan sebagai suatu keadaan/tingkatan, yang jika seseorang telah mencapainya, maka ia akan bebas dari kewajiban melaksanakan syariat Islam. Keyakinan ini muncul sebagai hasil dari perkembangan ajaran tashawwuf. Karena asal mula ajaran tashawwuf ialah melatih jiwa dan menundukkan watak dengan berupaya memalingkannya dari akhlak-akhlak yang jelek, dan membawanya pada akhlak-akhlak yang baik, seperti sifat zuhud, tenang, sabar, ikhlas dan jujur, menurut klaim mereka.
    Tidak diragukan lagi –menurut pandangan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang beriman– bahwa ucapan ini termasuk kekufuran yang paling besar. Bahkan ucapan ini lebih buruk dari pada ucapan orang-orang Yahudi dan Nashrani. Karena orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengimani sebagian (isi) kitab suci mereka dan mengingkari sebagian lainnya. Dan mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya. Mereka juga membenarkan perintah dan larangan Allâh Ta’ala, meyakini janji dan ancaman-Nya.
    Kesimpulannya, orang-orang Yahudi dan Nashrani yang berpegang pada ajaran agama mereka yang telah dihapus (dengan datangnya agama Islam) dan telah mengalami perubahan dan rekayasa, mereka ini lebih baik (keadaannya) dibandingkan orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah bebas dari kewajiban melaksanakan perintah Allâh Ta’ala secara keseluruhan. Karena dengan keyakinan tersebut, berarti mereka telah keluar dari ajaran semua kitab suci, semua syariat dan semua agama.
    Mereka sama sekali tidak berpegang kepada perintah dan larangan Allâh Ta’ala. Bahkan mereka lebih buruk dari orang-orang musyrik yang masih berpegang kepada sebagian dari ajaran agama yang terdahulu, seperti orang-orang musyrik bangsa Arab yang masih berpegang dengan sebagian dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
    Untuk membenarkan keyakinan tersebut, di antara mereka ada yang berargumentasi dengan firman Allâh Ta’ala berikut ini:
    Beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian).
    (Qs. al-Hijr/15 : 99)
    Kata mereka :
    “Makna ayat di atas ialah, sembahlah Rabb-mu sampai kamu (mencapai tingkatan) ilmu dan ma’rifat, dan jika kamu telah mencapainya maka gugurlah (kewajiban melaksanakan) ibadah atas dirimu …”.
    Padahal pada hakikatnya, ayat ini justru menyanggah anggapan pandangan mereka.
    Dikatakan oleh Hasan al-Bashri rahimahullâh:
    “Sesungguhnya Allâh Ta’ala tidak menjadikan bagi amalan orang-orang yang beriman batas akhir kecuali kematian,”
    Kemudian Hasan al-Bashri rahimahullâh membaca ayat di atas.
    Jadi, ayat di atas sangat jelas menunjukkan kewajiban setiap orang untuk selalu beribadah sejak dia mencapai usia dewasa dan berakal, sampai ketika kematian datang menjemputnya. Dalam ajaran Islam, sama sekali tidak ada yang dinamakan dengan tingkatan/keadaan, yang jika seseorang telah mencapainya maka gugurlah kewajiban beribadah atasnya, sebagaimana persangkaan orang-orang ahli tashawwuf.

    PENUTUP
    Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa ajaran tashawwuf merupakan ajaran sesat yang menyimpang, sangat jauh dari petunjuk Al-Qur‘ân dan Sunnah. Dengan mengamalkan ajaran ini –na’udzu billah min dzalik– seseorang bukannya semakin dekat dengan Allâh Ta’ala, tetapi justru semakin jauh dari-Nya. Dan hatinya, bukan semakin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda.
    Kemudian, jika muncul pertanyaan:
    “Kalau begitu, bagaimana usaha yang harus kita lakukan untuk mensucikan jiwa dan hati kita?”
    Maka jawabannya, sangat sederhana, yaitu pelajari dan amalkan syari’at Islam ini lahir dan batin; dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih.[8] Karena di antara tugas utama yang dibawa para rasul ialah mensucikan jiwa dan hati manusia dengan mengajarkan kepada mereka syariat Allâh Ta’ala.
    Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya:
    “Sungguh Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman
    ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri,
    yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh,
    membersihkan (jiwa) mereka,
    dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah).
    Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu,
    mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
    (Qs. Ali ‘Imrân/3 ayat 164)
    Maka, orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan petunjuk Al-Qur‘an dan Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah yang paling bersih, suci hati dan jiwanya. Dan dialah yang paling bertakwa kepada Allâh Ta’ala. Karena semua orang berilmu sepakat mengatakan, bahwa penghalang utama yang menghalangi seorang manusia dekat dengan Allâh Ta’ala ialah (kekotoran) jiwanya.[9]
      heris — 19 Desember 2010 @ 02:01
  27. Komentar Heris jg bisa sesat n menyesatkan krn menggeneralisir semua tasawuf sesat n diluar Islam. Kan jelas, ada tasawuf yang haq dan yang batil. Haq jk sesuai syariat, n batil jika bertentangan dengannya. gampang kan? Jgn mempersulit, kata Nabi. Jangan sok suci, kata Allah. Yg haq tentu jgn dinilai sesat, cukup yg batil saja. Jgn sok pinter lah…Tasawuf itu kan hanya nama ilmu ttg cara-cara menyucikan hati, Jadi ia kompilasi ajaran Rasulullah mengenai hal-hal yg berkaitan dengan penyucian hati, akhlak karimah, adab, dsb. Klo soal nama ilmu jangan diributkan, boleh kok pakai nama lain misalnya Ilmu Tazkiyatunnafsi,dll.Yang penting isinya sesuai dengan ajaran Rasulullah apa tidak. Jika sesuai kan ngaco dibilang sesat. Klo ga’ sesuai barulah sy n semua org beriman pasti setuju itu sesat menyesatkan, tp jgn dipukul rata.
      ROOZ — 29 Desember 2010 @ 09:18
  28. Soal nama-nama ilmu juga banyak yang bid’ah (baru), seperti ilmu fiqh,ushul fiqh,nahwu,ushuluddin,tafsir, ilmu tafsir,dll. Semua nama ilmu itu blm ada di zaman Nabi, beliau sendiri tidak menyebut ilmu-ilmu itu dalam hadisnya.Jadi nama ilmu2 tsb bid’ah semua, tapi bid’ah hasanah (baik) sehingga tdk sesat malah meningkatkan iman dan takwa jika isinya menghimpun ajaran-ajaran Rasulullah. Jd, ilmu fiq, tasawuf, ushul fiqh dsb tsb hanyalah klasifikasi dan sistematisasi ajaran Rasuullah sesuai bidang masing-masing.Sesat? tentu tidak jk demikian. Namun jika isinya menyimpang barulah sesat.Tapi hati-hati, jgn mudah menuduh sesat karena fikih juga ada perbedaan.
      ROOZ — 29 Desember 2010 @ 09:29
  29. Demi Allah, Allah swt sendiri telah berfirman bahwa sangat jauh perbedaan antara orang yang mengerti dengan orang yang tidak mengerti…
      BANDI ASY-SYAUQIY — 30 Desember 2010 @ 11:39
  30. To : Haris, jangan kebanyakan baca situs Wahabi Salafi
    Iman —> ilmunya Ushuludin
    Islam —> ilmunya Fiqih
    Ihsan —> ilmunya Tasawuf
      Buat Haris — 30 Desember 2010 @ 19:29
  31. To: Rooz, saya setuju dengan anda. Biasanya yg demikian (Heris) baru tahu kulitnya saja, mestinya sbg seorang muslim anda (Heris) mesti arif menyikapi suatu hal. “ALLAH maha mengetahui segalanya” …. artikan ini dengan seluas-luasnya.
    Lucu sekali anda, orang ingin dekat dengan ALLAH seperti dalam surat Al-Imron ayat 190, koq dibilang sesat, bid’ah ….
    hmmmm …. patut dipertanyakan keislaman anda !!! Nabi & Rasul menginginkan umatnya demikian, malah anda yg bilang sesat ….. Sebenarnya siapa sih yg anda sembah? Janganlah kedudukan yg Sunnah anda ubah menjadi Wajib, sedangkan yg Wajib anda ubah menjadi Sunnah, sekarang ini itulah anda !!!!! Nauzubillah ………
    Anda seperti katak dalam tempurung, sampai akhir ayat hidup anda tidak dapat menikmati bgm dekatnya, nikmatnya, indahnya akan segala rahmat & hidayat yg ALLAH curahkan …. saya ingin bertanya sesuatu hal yg mungkin sepele buat anda …. “SUDAH KHUSYUK KAH SHOLAT ANDA?” …. jangan hanya khusyuk fisiknya saja (seolah-olah terlihat khusyuk)pikiran kemana2 ….. apa yg anda sembah? angin? tembok masjid? ….. Emosilah, cacilah sy …. karena itu ‘baju’ yang anda kenakan! ALLAH menciptakan manusia sangat istimewa dari makhluk lainnya, maka gunakanlah akal & hati anda …. bukan ‘baju’ anda itu, sebelum terlambat!!!
    Maafkan hambaMu ini Ya ALLAH …..
    Thx to Bung Rooz …..
      baim — 30 Desember 2010 @ 23:46
  32. Bru bsa baca alif bak ajah ngangap yg aneh2 seng sesat lah.! Orng NADiyun (NU) tdk bleh debat. Udh lakum dinukum waliyadin ,. Smua ALLAH tau mana yg lurus mana yg sesat.
      Kawulo — 31 Desember 2010 @ 00:41
  33. apakah benar tasawuf ini berasal dari pandangan rahib-rahib kristen yang meninggalkan keduniaan untuk mencari kebahagiaan batin????
      narkho — 17 Januari 2011 @ 19:37
  34. aku telusuri halaman2 di web..singgah dari blog satu ke blog yg lain, mcari kebenaran…dan aku mulai merasakan adanya kedamaian dr orang2 yg telah mjalankan ilmu sufi..kata2nya sungguh mdamaikan dan menentramkan…Ya Allah bila tiba saatnya nanti mudah2an engkau ptemukan aku dengan seorang mursyid yang saleh yg dapat mbimbing q pada hadirat-Mu…
      setitik debu — 20 Januari 2011 @ 16:16
  35. alham dulillah………saya bisa mendapat kan ilmu dari orang2 yang mau peduli sama pengethuan…..terimakasih,,,,,,,,,,,,,,,,
      ardi — 22 Januari 2011 @ 23:10
  36. Benar : menurut genk Wahabi/Salafi
      Buat : Narkho — 23 Januari 2011 @ 20:26
  37. Buat Narkho : benar menurut genk Wahabi/Salafi
      Buat : Narkho — 23 Januari 2011 @ 20:28
  38. orang awam sprti kt tak usahlah kt membicarakan tntang ilmu ALLAH….biarlah semua itu diurus para ulama…….kt tnggal ikut aja….mn yg bner dan mantab dngn hati kita…..tak usahlah ber adu argument yg g’ jelas….bs menimbulkan perpecahan tau….
      no namme — 25 Januari 2011 @ 08:24
  39. Buat no namme: Tasawuf jelas, bukannya gak jelas, maaf klo awam lebih baik anda diam, gak usah ikut komentar, itu lebih baik buat anda. wajib bagi kaum muslimin memberi tahu & share kepada sesama, meluruskan yg belum lurus.
      share — 25 Januari 2011 @ 11:51
  40. Buat no namme: Tasawuf jelas, bukannya gak jelas, maaf klo awam lebih baik anda diam, gak usah ikut komentar, itu lebih baik buat anda. wajib bagi kaum muslimin memberi tahu & share kepada sesama, meluruskan yg belum lurus.!!!!
      share — 25 Januari 2011 @ 11:52
  41. BUKAN KARENA AMALMUU MANUSIA MASUK SURGA TAPI KARENA RIDHO TUHANMUU (ALLAH, SWT) YANG MEMBUATMU MASUK SURGA ATAU SEBALIKNYA..
    ALLAH TIDAK MELIHAT GOLONGAN,CARA IBADAHMU ATAU BANYAKNYA AMALMU TAPI ALLAH MELIHAT HAAATIMU. AGAMA DIPELAJARI BUKAN UNTUK HAPAL HADIS ATAU DALIL TP SEMUA ITU PERLU DIPELAJARI TP BELAJAR AGAMA UNTUK DANDANI HATIMUU DAN HATI KITA..ENNGGEH MAS..MAAFKAN KLAU ADA SALAH
      samin — 8 Februari 2011 @ 12:10
  42. memang kebutuhan berketuhanan tiap orang berbeda tergantung kekuatan daya nalar dan ketajaman batin yang dia miliki. Ulama fiqih adalah seorang yng belajar/kuliah tentang ilmu hukum (dlm hal ini hukum Islam). Sama spt profesi2 bidang hukum umum spt pengacara akan membela (baca pembenaran) pada obyek yg dia bela berdasarkan dalil hukum tertulis/dhohir yg pernah dipelajari. Sedangkan Ulama sufi menggunakan ketajaman nalar dan ketajaman batin untuk melihat permasalahan. Berketuhanan bukanlah semata tentang hukum kalau menyelisihi sedikit saja maka batal secara hukum. Bukan begitu penalaran ulama sufi karena berketuhanan juga menyangkut ketenangan batin, kebijaksanaan kasih sayang keadilan yg tdk mudah diukur secara dalil TEKSTUAL tetapi KONTEKSTUAL. Dalam Qur’an disebutkan ada kalam iktibar tentang penciptaan Langit dan bumi adalah tanda2 kekuasaan Allah bagi yg mau berpikir.
    Memang masing2 ulama fiqih dan ulama sufi punya pangsa pasar sendiri2. Sbg contoh ESQ 165-nya Ary Ginanjar di mana menurut saya termasuk Ulama Sufi. Mengapa orang2 profesional berduit rela membayar juataan untuk didakwahi Ary Ginanjar. Sedangkan yang gratis diberikan oleh ulama fiqih di majlis2 taklim para orang berpendidikan dan profesional ogah. karena mereka ingin mendapatkah sesuatu yg lebih untuk membangkitkan kesadaran berketuhanan daripada sekedar dicekokin doktrin2 dalil tekstual.
      iwan Abdurahman — 14 Februari 2011 @ 16:10
  43. asskum…..kita baru belajar sedikit hadis sudah menghatam orang2 ……bagaimana negara ri ini yang yg bukan landasannya Al-qur’an dan sunnah kok tidak kalian ributkan…….. apa ngak sesat orang yang mengambil undang undang dalam mengatur kehidupan ini selain Al-qur’an dan sunnah? coba antum pikir? semua aspek diatur dengan uud bhatil……jangan Salah Fikir …lidah pandai tapi bathin kita bodoh…..
      abi suhaila — 17 Februari 2011 @ 20:54
  44. Ass………wr wb.
    saudaraku,tidak ada satupun ilmu yg ada didunia ini sesat melainkan pemahaman dan penerapan kita yg kurang krn sebab masih mengakui diri,carilah pemahaman yg sesuai dgn kadar ilmu yg ada,hal ini hanya bisa di dapati dengan menuntut ( bukan belajar ) pada seorang guru mursyid,coba lihat perjalan Rosul,Rosul dan jibril iktibar bagi kita antara murid dan guru,jgn pernah memvonis seseorang krn itu adalah mutlak hak Allah…
    jgn pernah merasa benar,jika ingin tahu bgmn rasanya kopi maka cobalah minum kopi,kalo hal ini terus diperdebatkan dimana letak islam pada diri kita….
    Bagaimana kita bisa katakan kasih dan sayang kepada Allah yang tidak tampak/ghaib sedangkan sesama ciptaanNya saja yg jelas tampak kita tidak kasih dan sayang…..
    ” Fii anfusikum afalaa ubsiruun “yang ada pada dirimu kenapa tidak kamu perhatikan…….
    satu hal yg ingin saya pesan kepada kita semua : Allah swt tidak akan dapat dijumpai dgn amal zikir ataupun ibadah lainnya tp dengan kasih sayang lah Allah akan dapat kita jumpai……..
    Wassalam……….
      Ahmad — 21 Februari 2011 @ 00:26
  45. PENGALAMAN SAYA SEBELUM MENGENAL TASAWUF. DULU SAYA RAJIN SHALOT DARI KECIL RAJIN BELAJAR AlQur an,lama kelamaan saya menjadi jenuh,bosan, dan malas,serta sholat saya tak khusuk,yg ibadah dikerjakan juga,yang dilarang dikerjakan juga,karena tak ada ketenangan dan kenikmatan dalam sholat dan sholat banyak yg tingal/lupa, maka saya putuskan tidak sholat sama sekali,itu lebih kurang 5 taun lama. karena saya tak paham dan mengenal allah secara gaib/bathin.tapi saya mengenal allah secara dari muluk guru2 ngaji,orang tua saya dan teman2 saya dan ibadah yg saya kerja hanya secara fikif saja dan tak mengenal hakekat dan makripat(siapa yang dirukuk dan siapa yang disujup), hanya kenal dalam kontek saja.alhamdulillah kerena sudah kehendak allah tuhun 1999,saya hijrah dari Bukittinggi ke pekan baru,melewati teman saya mengenal seorang guru, mengajarkan kepada saya sebuah ilmu yang namanya MENGENAL DIRI, lebih kurang 4 tahun lamanya (dalam masa ini saya belum juga mengerjakan sholat)karena saya mulai paham bahwa nabi Muhammad SAW sebelum mendapat perintah untuk israt dan mikrat, untuk menjempuk perintah sholat, dia mengajarkan Iman kedalam dada pengikutnya selama lebih kurang 16 tahun lamanya, baru masalah rukun Isalam yang diajarkannya itu lebih kurang 7 tahun lamanya ditutup oleh nabi dg mengerjakannya haji, siap itu dia meninggal dunia (PESAN SAYA = KEPADA SAUDARAKU SESAMA ISLAM, JANGAN ADA LAGI SALAH PAHAM, MENG ANGAP PENDAPAT KITA YANG BENAR DAN MENUDUH SESAT SERTA BIDAAH OLEH PENGIKUT FIKIF TOK SAJA TERHADAP TASAWUF. 1. DG MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI AGAMA ISLAM INI SEMENJAK NABI LAHIR SAMPAI NABI MENINGAL DUNIA,KARENA DALAM MASA NABI LAHIR SAMPAI NABI ISRAK MIKRAT ITU BANYAK SEKALI PELAJARAN DAN PEMAHAMAM TENTANG TENTANG RUKUN IMAN YANG DIAJARKAN OLEH NABI KEPADA PENGIKUTNYA DAN KEJADIAN2 YG TERJADI PADA NABI,JADI NABI MENGAJARKAN DAN MENANAMKAN MASALAH IMAN DIDADA PENGIKUTNYA PALING DULU DAN PALING LAMA DARI PADA MASALAH RUKUN ISLAM.2. ANDA HARUS PAHAM LETAK BER AGAMA ITU? YAITU MEMAHAMI DAN MENGETAHUI TENTANG ROHANI KITA, YG BERSIPAT GAIP ATAU BATHIN, KARENA ALLAH ITU BERSIPAT GAIB/BATHIN, JADI UNTUK MENGENAL YG GAIB DG GAIB JUGA. 3. KULAU ANDA INGIN MENDAPATKAN KENIKMATAN BERAGAMA ISLAM KEMBALIKAN KE DIRI ANDA, YANG SABANA DIRI YAITU HATI ANDA SENDIRI( SUMBER KENIKMATAN DAN KEBAHAGIAN, SUMBER PENYAKIT,TEMPAT WAS2, DAN SUMBER AMALAN KARENA APAPUN IBADAH TANPA DINIAT KAN DARI HATI TIDAK AKAN DITERIMA OLEH ALLAH.4. COBA ANDA RASAKAN BAHWA HATIMU ADA DUA YAITU HATI SANUBARI/ HATI BESAR TEMPAT NAPSU BERTEMAN DG SETAN, DAN HATI NURANI/HATI KECIL ATAU HATI PALING DALAM TEMPATNYA ALLAH DAN MALAIKAT, CONTOHNYA BISA KAMU RASAKAN:APABILA KAMU INGIN BERBUAT JAHAT PASTI HATIMU AKAN TERJADI PERLAWANAN YG SATU MENYURUH DAN YG SATU LAGI MELARANG, AKAN TERJADI PEPERANGAN BATHIN, MANA YG MENANG, KALAU YG MENYURUH YG MENANG BERARTI ANDA SUDAH MEMBUAT DOSA DAN SEBALIKNYA ANDA MENANG DAN MENDAPAT PAHALA. TOLONG PAHAMI BETUL TENTANG CONTOHNYA KARENA DI DIRI ANDA TSB TERDAPAT SUMBER ILMU TENTANG MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH BAGI ORANG2 YG MEMPERGUNAKAN HATINYA DARI PADA OTAKNYA DAN ALLAH AKAN MEMBUKAKAN HIDAYAHNYA ORANG YG MENCARI. 5 ANDA HARUS TAHU ORANG TASAWUF YG SESUSAI DG ALQUR AN DAN SUNAH YAITU: SARIAAT TANPA HAKEKAT ADALAH HAMBAR SEPERTI SAMBAL TANPA GARAM( ITU YG TERJADI PADA SAYA SEBELUM MENGENAL TASAWUF), HAKEKAT TANPA SARIAAT ADALAH ZINDIK/SESAT, JADI HARUS SEJALAN SARIAAT,TERIKAT, HAKEKAT, DAN MAGRIPAT KEPADA ALLAH. 6. TASAWUF SEBETUL ADALAH MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI TENTANG HATI ATAU GOLBU DENGAN ILMU YG DIAJARKAN GURU2 YG TERPERCAHAYA BAIK ILMU AGAMANYA DAN BUDI PEKERTINY DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI.DEMIKIAN PESAN SAYA KEPADA ANDA SEMOGA ANDA SEMUA DAPAT HIDAYAH DARI ALLAH, DAN SAYA TETAP MEMAAFKAN ANDA SEMUA KARENA KITA INI SUDAH DITAKDIRKAN UNTUK BERBEDA TINGKAT PEMAHAMAN TENTANG KE IMAMNAN KEPADA ALLAH, TERGANTUNG KITA MAU MENCARI YG ADA PADA DIRI KITA DAN HIDAYAH DARI ALLAH.DEMIKIAN KOMENTAR DARI SAYA, KAPAN DISAMBUNG LAGI, WASSALAM H MUKHLIS.
      H MUKHLIS — 22 Februari 2011 @ 11:57
  46. LIKE THIS PAK HAJI MUKLIS.
    DUA2NYA BERTUJUAN SAMA KESELAMATAN DUAI AKHIRAT. YANG SYARIAT AMALAN LAHIR AKAN TERLIHAT DAN TERUKUR PASTI DENGAN HUKUM SYARIAT, YANG TASAWUF TIDAK SERTA MERTA KASAT MATA. DUA2NYA BISA TERJADI PENYIMPANGAN, YANG TASAWUF SAJA: POKOKNYA BERIMAN/HATI BERSIH TETAPI TIDAK SHOLAT MISALNYA, SEDANGKAN YG SYARIAT SAJA YANG PENTING SUDAH SHOLAT TDK PERDULI MAKSIAT DAN MENYAKITKAN HATI ORG LAIN JUGA JALAN TERUS.
      iwan Abdurahman — 23 Februari 2011 @ 11:10
  47. LIKE THIS PAK HAJI MUKLIS.
    DUA2NYA BERTUJUAN SAMA KESELAMATAN DUNIA AKHIRAT. YANG SYARIAT AMALAN LAHIR AKAN TERLIHAT DAN TERUKUR PASTI DENGAN HUKUM SYARIAT, YANG TASAWUF TIDAK SERTA MERTA KASAT MATA. DUA2NYA BISA TERJADI PENYIMPANGAN, YANG TASAWUF SAJA: POKOKNYA BERIMAN/HATI BERSIH TETAPI TIDAK SHOLAT MISALNYA, SEDANGKAN YG SYARIAT SAJA YANG PENTING SUDAH SHOLAT TDK PERDULI MAKSIAT DAN MENYAKITKAN HATI ORG LAIN JUGA JALAN TERUS.
      iwan Abdurahman — 23 Februari 2011 @ 11:10
  48. Ilmu segunung klo keyakinan “0 ” sm j boong,masing2 j jalaninnya g usah berdebat.
      Aaf — 4 Maret 2011 @ 13:55
  49. Alafu nich bagi yang menentang tasawwuf, sepertinya cukup jelas sudah keterlibatan Tasawwuf dalam penyebaran agama Islam bila coba di Check sanad keilmuan Thariqoh Qadiriyah dan juga Alawiyyin dan tolong dicheck ke thariqoh yang lainnya juga…..
    Bagi yang berpegang pada mahdzab Syafi’i kalian tahu pasti apa maksud saya….
    Untuk soal kepastian kebenaran Ilmu yang diamalkan, baik fiqih maupun tasawwuf, mengapa semua tak merujuk pada Mahdzab awal disebarkannya Islam diIndonesia ataupun pada ulama-ulama Hadramaut yang jelas-jelas punya sejarah penyebaran Islam di Nusantara sejak awal…
    Pelajarilah sejarah jikalau perlu untuk mencari kebenaran…
    Bagi yang masih mencari mursyidnya…. kalau Allah masih belum mengizinkan maka Hidayah pun belum kan datang padamu, setiap-tiap dari kalian memiliki Mursyidnya masing-masing
    Bagi yang menggunakan kalimat Lakum dinukum waliyadin, tolong dipahami fungsi dan cara bagaimana penggunaan kalimat tersebut, disaat kapankah kalimat tersebut diperlukan dan siapakah yang berhak menggunakannya dan terhadap siapakah engkau menggunakan kalimat tersebut….
    Bagi yang suka berbicara seenaknya yang bisa menyakiti sesama muslim, tolong jangan permalukan diri kalian sendiri….
      Muhammad..... — 12 Maret 2011 @ 16:00
  50. janganlah perbedaan menjadi jurang pemecah umat, hablum minannas bukankah islam rohmatan lil alamin. diskusi boleh saja asal terarah. hati saya sedih melihat saudara saya yg seiman dan seakidah memperdebatkan masalah keyakinan yg sama. bukankah iman itu di yakini dalam hati diikrarkan dalam lisan dan dipraktekkan dalam laku hidup sebagaimana tuntunan Kanjeng Rosulollah. saya yakin Kanjeng Rosul pasti akan menangis bila melihat umatnya seperti ini, saling berbantah-bantahan tentang Risalah yg pernah dibawanya. Hakikat kebenaran mutlaq hanya ALLAH SWT yg tahu, tidaklah diberitahukan kecuali hanya sedikit. jgnlah yg sedikit ini malah menjadikan perdebatan yg tiada ujung pangkalnya. ALLAHHUALAM BISSOWAB WALLAHHUALAM BIMURAD. santri alit
      santri alit — 18 Maret 2011 @ 12:06
  51. ana butuh sesuatu dari antum tentng para ahli tasawuf
      pranaya — 20 Maret 2011 @ 17:17
  52. mereka tidak menyebut diri mereka sufi, orang lain lah yang memberi mereka julukan sufi. mereka hanya orang-orang yang telah mempelajari fiqh mencintai Allah dan RasullNya tetapi mereka tidak sombong dengan ilmunya, mereka diam bila tidak di tanya dengan ke ikhlasan, mereka membersihkan hati serta berusaha mendekatkan diri pada Allah Swt.
    Mereka tidak pernah menghujat Ahlul Sunnan, tidak pernah menghujat siapapun. mereka tidak merasa pintar maka mereka diam, karna mereka membersihkan hati dari riya.( tidak pamer dalam ibadah dan penampilan ) jika yang lain merasa lebih beriman dan lebih ber ilmu, meraka tidak iri, apa lagi mencaci maki, jangankan untuk membenci sesama muslim bahkan membenci yang lainnya pun mereka tak semapat, karna tak ada ruang dalam hati mereka untuk semua itu, selain Allah. ( Saya bukanlah seorang sufi dan tidak pula padai Ilmu fiqih dll, yang saya ketahu adalah AhlulSunnah dan sufi adalah orang-orang yang baik )
      Abidin — 22 Maret 2011 @ 10:16
  53. bagaimana kita bisa mengetahui manisnya gula apabila kita belum pernah memakannya?????????
      jumaro al mulk — 22 Mei 2011 @ 02:18
  54. yang pernah merasakan pasti tahu, demikian sebaliknya………..
      aqil — 22 Mei 2011 @ 12:35
  55. jgn menuduh org tassauf sesat……banyaklah bertanya wahai yg tidak mengenal tassauf……karena ilmu tassauf itu memeang tidak di ajarkan Rassullulah secara terbuka…karena bisa bisa tergelincir apa bila tidak dengan yg ahlinya.
    Fiqih mengatur perbuatan,sedang ma’rifat itu mengatur perasaan………..
    bagaimana amalmu akan sampai apa bila tidak engkau kenal siapa yg engkau sembah dan siapa yg menyembah……..
    mohon ampun kl ada salah kalimat..
    wassalam…..
      daha al banjari — 22 Mei 2011 @ 13:08
  56. Assalamu alaikum..
    Coba melihat semua coment
    Yang belum tau dengan benar sebaiknyajangan buru2 menuduh
    Yang uda tau hati2 klo bicara, bisa jadi itu ujian buat yang “merasa tahu”
    “Merasa benar” sedang yang Haq cuma ‎​اَللّهُ semata
    Benar kata pepatah
    “Kalo belum pernah makan kurma bagaimana kamu bisa tau manisnya kurma”
    Yang belum pernah makan ga akan pernah tau rasanya
    Dijelaskan seperti apapun tetap tak akan tau
    Kecuali ia memakannya
    Buat yang meyakini, jalani sepenuhnya jangan takut meski harus tinggal di neraka
    Buat yang ragu/tak percaya , buang jauh jauh pengetahuan ini
    Dan jangan mampir ksini, karena hanya akan jadi racun buat semua.
    Terus beribadah sesuai kemampuan dan keyakinannya. Jangan saling bermusuhan, karena kemampuan orang berbeda beda.
    Anggaplah kami ini bodoh tidak sepintar kalian. Jadi tak perlu menghina.
    Sesungguhnya ‎​اَللّهُ Maha Pengasih lagi Penyayang bagi hambanya yang bodoh dan hina.
      faiz wong — 26 Mei 2011 @ 10:16
  57. Islam bisa digambarkan/diibaratkan buah kelapa yang terdiri dari :
    1. Kulit/Serabut = Syari’at (sembah raga)
    2. Kulit Batok = Tarekat/Thoriqoh (sembah cipta)
    3. Daging kelapa = Hakikat (sembah jiwa)
    4. Air kelapa = Ma’rifat (sembah rasa)
    yang kesemuanya itu ada dalam ajaran tasawuf, tergantung kita sebagai manusia apakah kita beribadah sudah benar2 bulat total…melibatkan hati/qolbu yang bersih atau ditingkatan mana seperti diatas tadi yang disebutkan atau sebagai barometer bahwa kita masih ditingkat berapa ???, karena ajaran tasawuf menekankan qolbu/hati/jiwa yang bersih untuk beribadah kepada Alloh,,,sekian wassalam.
      badranaya — 21 Juni 2011 @ 13:53
  58. sambungan…
    dari keempat macam/tingkatan itu…harus berurutan tdk boleh dipilih-pilih dan tentunya berlandaskan Al Qur’an & Hadits,,, kita bisa membayangkan semakin kedalam kita masuk akan semakin nikmat, gurih buahnya dan segar meminum air buah kelapa tadi…
      badranaya — 21 Juni 2011 @ 14:32
  59. tarekat dan sufi tidak ada dalam ajaran Baginda ROSULALLAH SAW itu sudah jelas merupakan jalan yang sesat . . .
      aan — 27 Juni 2011 @ 11:22
  60. “Dan jika manusia tetap pada suatu Thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan”. (Qs: Al Jin 16)
    Berdasarkan Qs: Al Jin 16, ajaran Thoriqoh adalah ajaran agama Islam, bukan ajaran Ulama’ Salaf (Ulama pertengahan setelah para sahabat), sebagaimana anggapan sebagian kecil ummat Islam. Ajaran Thoriqoh itu dititikberakan kepada ajaran Dzikrulloh. Masalah Dzikrulloh telah di contohkan atau diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Tersebut di dalam al-Qur’an :
    “Sungguh ada bagi kamu di dalam diri Rosul itu contoh yang bagus, bagi siapa saja yang ingin bertemu Alloh dan hari akhir, maka Dzikirlah kepada Alloh yang sebanyak-banyak- nya”. (Qs: Al-Ahzab : 21), terserah sesat atau tidak karena sesat/tersesat itu diakibatkan/dikembalikan ke manusianya sendiri…
      badranaya — 28 Juni 2011 @ 13:15
  61. Pendapat saudara heris yang dilengkapi dengan beberapa dalilnya cukup menarik juga untuk dibahas dan dikaji diantaranya :
    1.Aku beribadah kepada Allâh Ta’ala, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka”. (!?) Kalimat ini menggambarkan bahwa ketika melakukan ibadah baik sunat atau wajib selalu berlandaskan pada Allah SWT semata. Artinya ketika melakukan ibadah yang diharapkan adalah ridho dan rahmat Allah semata.Ketika beribadah mengharapkan surga dan takut akan neraka maka akan bermakna bahwa ibadahnya dilakukan karena surga atau neraka,padahal surga dan neraka merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Contohnya ketika kita takbiratul saat sholat ada kalimat lillahita’ala artinya hanya karena Allah Ta’ala, sehingga bukan karena surga atau neraka.
    2.Untuk membenarkan keyakinan tersebut, di antara mereka ada yang berargumentasi dengan firman Allâh Ta’ala berikut ini:
    Beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian).
    (Qs. al-Hijr/15 : 99)
    Kata mereka :
    “Makna ayat di atas ialah, sembahlah Rabb-mu sampai kamu (mencapai tingkatan) ilmu dan ma’rifat, dan jika kamu telah mencapainya maka gugurlah (kewajiban melaksanakan) ibadah atas dirimu …”.
    Padahal pada hakikatnya, ayat ini justru menyanggah anggapan pandangan mereka.
    Ayat ini merupakan sanggahan saya pikir bertentangan dgn pernyataan :
    Tasawwuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal pada zaman para sahabat radhiyallâhu’anhum, bahkan tidak dikenal pada zaman tiga generasi yang utama (generasi Sahabat,
    Kalau ayat tersebut diatas merupakan sanggahan maka tasawuf sudah ada sejak jaman rasullah SAW, sementara saudara heris katakab tasawuf tidak dikenal pada zaman rasulullah SAW.
    3. Orang-orang ahli tashawwuf, umumnya, dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al-Qur‘ân dan Sunnah, tetapi, pedoman mereka adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka, serta ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka.
    Menurut pendapat saya tidak seperti itu adanya, jika tidak berpedoman pada Alqur’an maka mereka tidak kenal akan kaliamat syahadat, tauhid, atau Muhammad, SAW. Bisikan jiwa atau qalbu atau lebih dikenal dengan kata hati pasti akan ada pada setiap manusia. Bisikan jiwa dijadikan pedoman maksudnya berupaya mendengarkan bisikan jiwa kemudian dikaji lagi apakah sudah sesuai dengan perintah Allah atau tidak, kalau tidak sesuai dengan perintah Allah maka akan ditinggalkan. Contoh : ketika melihat duit di jalan, maka dalam diri akan ada perkataan diambil atau tidak diambil. Dua hal tersebut dipastikan akan muncul, karena Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan.
    Saya pikir cukup dua hal ini saja yang dibahas terlebih dahulu, semoga ada manfaatnya…
      hardi borneo — 7 Juli 2011 @ 00:53
  62. Lautan ilmu milik ALLAH SWT. takkan ada habisnya bila direguk, Bila ada sebutir ilmu kita mengerti, maka amalkanlah.
    Ilmu Tassawuf bukan untuk diperdebatkan, bila ada yang ingin ilmu ini, maka bergurulah bersama Mursyid yang Bijak (makrifat) ambil dan rasakan manfaatnya.
    Forum ini tiadalah arti, bahkan hanya akan membuat perpecahan umat, Amalkan ilmu dengan apa yang kita yakin dan harus didasari Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasululullah SAW.
    Banyak orang Pintar tetapi tidak Bijak, Tapi banyak orang baru belajar tetapi mereka bisa mencintai & mengasihi sesama muslim khususnya bahkan kepada seekor semut sekalipun.
    Mereka yang telah mengamalkan Tassawuf tidak mungkin bisa membela dan berbantahan (di forum ini/manapun) apalagi sampai menghujat kepada sesama muslim. karena sebenar-benarnya seorang sufi adalah mensucikan jiwanya dari sifat yang tercela serta sabar didalam ikhlas.
    Mereka yang tidak setuju dengan Tassawuf, maka Allah pun sayang kepada mereka karena mereka juga muslim yang sama-sama berpegang kepada warisan Rasululullah SAW.
    ttd: Hamba Fakir
      Aji Nur Syahid — 9 Juli 2011 @ 15:03
  63. assalamu,alaikum, sbaiknya kita smua kembali kepada inti islam,yakni kita smua bersaudara,,dan terapkan pungsi saudara kepada saudaranya, maka tidak akan trjadi debat perpecahan, jika anda merasa jalan anda bnar maka nasehatkanlah saudara anda yang anda rasa salah,jika anda kasih dan sayang pada saudara anda,,,maka bimbinglah dengan sgenap kemampuan anda.trima kash skian wassalam
      A mubarrak ahmad — 19 Juli 2011 @ 13:37
  64. Alhamdulillah… blog ini sangat bermanfaat khususnya buat saya… dan umumnya buat para pembaca… insya Allah… semoga Allah memaafkan kekurangan ilmu dan kesombongan hati… semoga menyelamatkan hati orang2 yang telah bersyadat….
      dwi — 26 Juli 2011 @ 23:30
  65. Apabila berselisih dlm perkara maka kembali kpd tali Allah > Al Qur’an dan Sunnah (kitabullah)
      Febri — 12 Agustus 2011 @ 12:56
  66. Sebenarnya Fiqh dan tasawuf adalah dua hal yang tak terpisahkan.. Fiqh adalah ilmu untuk mempelajari benar dan salahnya kita dalam beribadah sedangkan tasawuf adalah ilmu untuk mempelajari bagaimana menikmati ibadah yang kita jalani.. Jadi semua gak ada yang salah.. Semua yang diturunkan Dari Alloh kepada Rasul-Nya satupun tidak ada yang salah.. Yang salah adalah diri kita, pemikiran kita.. Janganlah memperdebatkan sesuatu yang kita sendiri bukan ahlinya.. Yang jelas ada dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 17.. Silahkan dibaca dan dipahami betul..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar